Kisah Nyata Pandemi vs Gempa Bumi di Sulawesi Barat

Jumat, 11 Januari 2021 terdengar suara gemuruh dari bawah tanah membuat malam yang tenang itu seketika menjadi tegang. Mata pun terbangun dari nyenyaknya lelap tidur malam itu. Seketika saya berlari keluar seraya menghindar dari reruntuhan tembok yang bisa saja roboh kapan saja akibat tanah yang bergerak.

Gempa dengan kekuatan Magnitudo 6,2 yang terjadi barusan ternyata berasal dari Majene, Sulawesi Barat. Sakin kerasnya hingga terasa sampai ke Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Saya melanjutkan tidur dengan pikiran yang tetap waspada hingga ayam berkokok menandakan pagi telah tiba.

Pagi itu seketika ramai dengan pembicaraan gempa subuh tadi. Sambil membuka kunci pada layar hp saya melihat berita yang bertuliskan Gempa 6,2 SR semalam mengakibatkan hancurnya gedung perkantoran Gubernur Sulbar dan desa-desa sekitar yang longsor akibat gempa.

Tanpa pikir panjang saya menghubungi teman-teman Relawan untuk bersiap menuju ke lokasi bencana sesegera mungkin, setelah meeting singkat kemudian kami mulai bergerak untuk mengumpulkan donasi dan Tim Relawan yang akan berangkat kesana.

Pengumpulan Donasi & Tim Relawan

Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya donasi terkumpul beserta daftar nama-nama yang diutus untuk berangkat. Namun, ada persyaratan wajib bagi seluruh Relawan yang ingin berangkat. Yaitu melakukan Swab Antigen dengan hasil negatif terlebih dahulu.

Saat mendengar hal tersebut, sontak saya merasa deg-degan, pasalnya ini adalah pertama kali saya melakukan Swab Antigen setelah peraturan baru yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan tentang protokol Covid-19. Saya pun sempat menolak dan agak sedikit emosi sambil berkata,

kalau saudara kita disana mati karena kelaparan dan kedinginan bagaimana ? Siapa yang mau bertanggung jawab ?

Dengan sangat perlahan saya membuka surat hasil SWAB pagi itu, dan alhamdulillah hasilnya negatif covid-19 menandakan saya bisa berangkat hari itu juga.

Hasil swab antigen yang ditunggu

Pilihan yang cukup berat antara menolong korban bencana yang sudah sekarat dengan SEGERA sedangkan disisi lain tim penolong pun dibatasi karena khawatir penularan Covid-19

Mobilisasi Bantuan Korban Gempa

Kami berangkat dengan formasi 12 Relawan dan 2 orang Tentara untuk mengawal bantuan hingga tiba di lokasi posko bencana yang terdiri dari 2 mobil standar dan 1 mobil truk besar yang terisi penuh bahan pokok dan obat-obatan serta perlengkapan trauma healing untuk anak-anak terdampak.

Pandemi vs covid19

Kami berangkat pukul 06.00 pagi dengan waktu tempuh kurang lebih 5-6 jam kecepatan normal. Begitu tiba di Kota Majene kami langsung melapor ke Posko Induk BUMN terlebih dahulu untuk memonitor lokasi terparah pasca gempa serta kebutuhan apa saja yang paling dibutuhkan saat ini.

Pandemi vs covid19
Pandemi vs covid19

Setelah briefing beberapa saat, kami akhirnya mendapat hasil asesmen mengenai titik yang sangat membutuhkan saat ini yaitu di Kecamatan Ulumanda dan Malunda yang juga berbatasan langsung dengan Mamuju.

Kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi tersebut sebelum malam menjemput, khawatirnya ada penjarahan dan hal yang tidak diinginkan saat diperjalanan. Beruntungnya karena kami dikawal oleh 2 orang anggota TNI hingga tiba di Kecamatan Malunda.

Sosialisasi Covid-19 dan Pembagian Sembako

Waktu menunjukkan pukul 17.00, dan kami akhirnya tiba sebelum malam di Kecamatan Malunda, Majene, Sulbar yang merupakan Posko Utama kami selama 14 hari kedepan. Setelah menurunkan sembako dari truk ke dalam posko kami sempat bersitegang dengan warga sekitar yang meminta bantuan dengan nada yang cukup tinggi.

Saat itu kami cukup khawatir terjadi penjarahan di lokasi posko. Maka dari itu kami mencoba memanggil salah seorang imam yang dituakan didampingi tentara yang berusaha menenangkan kerumunan warga malam itu. Alhasil, warga berhasil ditenangkan dan kami segera mengamankan kembali sembako yang kami bawa dari Makassar.

keesokan harinya…

Gerombolan ayam terdengar berkokok sangat nyaring menandakan pagi sudah tiba. Begitu bangun teman-teman relawan sangat kaget karena terdapat banyak ayam yang juga tidur di dekat kami. Ternyata eh ternyata itu ayam tetangga yang berkeliaran di atas terpal yang sama dimana tempat kami tidur hari itu di luar rumah pada lokasi pengungsian.

Hari ini agenda kami adalah Sosialisasi Covid-19 dirangkaikan makan bersama warga desa di Dapur Umum pengungsian. Saya membawakan materi umum yang berisi protokol pencegahan Covid-19 dan cara pencegahannya. Ditengah sesi presentasi, tiba-tiba ada yang bertanya :

Nak, kalau kampung kami banyak Covid-19 nya apakah masih ada Relawan yang mau datang kesini membantu kami? (dengan raut wajah sedih)

Sambil menyimak pertanyaan si ibu, dalam hati saya berkata

“masyaallah, benar-benar pilihan yang sulit dimana relawan sudah sangat terbatas, ditambah lagi kalau ada korban yang menderita Covid-19”

Sambil tersenyum saya menjawab pertanyaan si ibu,

“Covid-19 memang berbahaya, namun teman-teman Relawan akan selalu ada di garis terdepan jika saudara-saudari kita yang notabenenya sekampung halaman membutuhkan bantuan langsung. Sebelum berangkat pun kami sudah melakukan Swab Antigen dan siap dengan konsekuensi yang ada di lapangan, meskipun itu artinya kami bisa saja terpapar Covid-19”

Pada dasarnya diatas Protokol Covid-19 masih ada Protokol Kemanusiaan yang melandasi para Relawan yang datang ke lokasi bencana. Kita diajarkan untuk dapat menentukan skala prioritas antara mana yang PENTING dan mana yang benar-benar PENTING MENDESAK.

Kalau ada kesempatan untuk menyelamatkan nyawa manusia walau hanya 1% lebih baik kita coba dari pada kita diamkan saja. Niscaya niat baik takkan pernah mengkhianati hasil.

Saya melanjutkan materi sosialisasi dan memasuki pembahasan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat atau akrab dikenal dengan nama PHBS. Disini saya membahas secara sederhana tentang cara cuci tangan yang baik dan benar dengan 6 Langkah Cuci Tangan yang pernah diajarkan ketika saya aktif menjadi Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) saat semester awal perkuliahan.

Selain itu saya juga mencoba untuk memaparkan tentang pola hidup bersih apa saja yang harus kita lakukan agar terhindar dari Pandemi Covid-19, termasuk penerapan 3M pada masyarakat di lokasi pengungsian, yaitu Menggunakan Masker saat berbicara sesama pengungsi, Mencuci Tangan sebelum makan dan Menjaga Jarak sebisa mungkin dengan pengungsi lain yang memiliki ciri-ciri Covid-19

Sosialisasi Covid-19 ini benar-benar merupakan Pengalaman Saat Pandemi COVID-19 yang tak terlupakan. Wajar saja kalau orang-orang benar-benar struggle di tengah Pandemi vs Gempa Bumi Sulawesi Barat ini. Sosialisasi saya akhiri dengan doa bersama dan penyampaian berita baik bahwa Vaksin COVID-19 sudah masuk di Indonesia dan akan segera diberikan kepada pejuang medis dan jajaran garda terdepan yang melawan Pandemi ini.

pengalaman tak terlupakan saat sosialisasi covid-19 di lokasi bencana

Trauma Healing

Setelah memberikan sosialisasi untuk kepala-kepala keluarga yang ada di Kec. Malunda, Kab. Majene. Esoknya kami mengunjungi lokasi pengungsian lain dan mengumpulkan anak-anak yang kehilangan harta benda ataupun anggota keluarganya yang telah tiada.

Disepanjang perjalanan kami melihat sebagian besar rumah yang ada di kecamatan ini roboh dan retak akibat guncangan gempa Magnitudo 6,2 tersebut, termasuk Masjid dan sekolah-sekolah yang ada di berbagai desa lainnya. Hal ini membuat anak-anak terpaksa berhenti bersekolah untuk sementara waktu. Oleh karena itu, kami berinisiatif untuk membuat sekolah darurat sementara agar anak-anak bisa belajar sambil bermain di tengah tenda pengungsian.

Kali ini kami akan melakukan Trauma Healing dengan metode Fun Games dan Kuis Berhadiah kepada anak-anak di lokasi pengungsian.

Awal kami tiba di tenda pengungsian mereka, terlihat ada yang sangat senang dengan kedatangan kami dan ada juga yang masih terlihat takut melihat kedatangan kami seperti orang asing. Beberapa diantara mereka hanya bersembunyi di balik tenda dengan wajah ketakutan akibat trauma saat gempa datang.

Dengan bujuk rayu dan beberapa permen, kami mencoba menghampiri mereka sambil mencoba membangun pembicaraan hangat untuk diajak bermain dengan teman-teman yang lain.

namanya juga anak-anak, kalau di kasih permen 99% auto bisa dibujuk dong, hahaha

Permainan pun dimulai, kami mencoba mengajarkan beberapa lagu bahagia serta pelajaran menggambar dan mewarnai tokoh kartun yang ada. Akhirnya, suasana pun mulai cair dan semua anak-anak di lokasi pengungsian Desa Pesabbu dan Meikatta berhasil kami ajak dalam Fun Trauma Healing kami. Bahkan, ibunya pun ikut bermain juga wkwkwk.

Games kami akhiri dengan teka-teki 3 nama ikan yang ada di Indonesia, dari jawaban terlihat jelas bahwa anak-anak di Sulbar itu pintar-pintar. Ada yang menjawab ikan jilo (ikan gabus:indonesia), ada yang menjawab ikan tuing-tuing dalam bahasa Makassar dan bahkan ada yang menjawab IKAN BAKAR yang membuat suasana seketika pecah dengan suara TERTAWA mulai dari anak, ibu dan neneknya, wkwkwk.

denger nama ikan bakar, saya mah auto LAPER, hahaha

Tulisan ini diikutkan dalam #TantanganBlogAM2021

video fun trauma healing desa meikatta dan pesabbu, majene

15 thoughts on “Kisah Nyata Pandemi vs Gempa Bumi di Sulawesi Barat

  1. Cerita yg sngat menarik maz, semoga sulbar bisa segera bangkit amiiin. Salam dr tulungagung, izin share yoo

  2. Tulisan ini diawali dengan nelangsa kesedihan sebab bencana/ujian/cobaan dari Tuhan, tapi sekaligus menumbuhkan harapan bahwa masing masing dari kita sebagai sesama Manusia akan saling mengulurkan bantuan. Itulah makna dari adagium “memanusiakan manusia” semoga kita sentiasa saling menguatkan.

  3. Tulisannya padat namun tidak kaku, tidak terlalu serius tapi informatif. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Tuhan.

  4. Luar biasa perjalanan, setiap kejadian akan ada hikmahnya … Semangat ki sodara . Kalian luar biasa

  5. Wah kak keren bnget tulisannya, semoga nnti bisa ketemu yak di makassar see you soon kak😂🙏🏻

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *