Sepenggal Cerita Beta Di Pulau Rote

Rote bagiku lebih dari sekedar hamparan tanah yang luas membentang diatas laut, lebih dari sekedar pulau yang berada di ujung selatan Indonesia. Bagiku Rote adalah keluarga!

Disini saya bertemu dengan bapa, mama, kakak nona, to’a, te’o dan adek. Siapa mereka?  yah, mereka adalah keluarga baruku di bumi NTT. Kami bertemu saat senja mulai menampakkan diri sore hari di desa Oetefu, Rote Barat Daya 22 September lalu.

Begitu hangat mereka menyambut tamu jauh yang datang dari tanah Sulawesi ini. Saya pun merasa sangat senang dengan keakraban yang terjalin di Rote begitu cepat.

Menarik : Cerita Keliling Indonesia Dengan Sebuah Ransel

Ada banyak penggalan cerita yang saya simak dari masyarakat desa Oetefu. Sedih, senang, susah, tawa dan tangis tak ragu mereka ceritakan kepada Beta, yang berarti saya dalam bahasa NTT.

Kisah Bapa Musa Messakh Mencari Rezky

Pulau Rote

Musa Messakh atau akrab dipanggil bapa Musa ini tinggal di desa Oetefu, Rote Barat Daya, Kab. Rote Ndau. Keseharian beliau diisi dengan bekerja mencari Gula Air atau yang umum dikenal dengan Gula Aren.

Setiap pagi setelah ayam berkokok bapa Musa mengambil perlengkapan kerjanya dan bergegas untuk memanjat pohon lontar (bahan baku pembuatan gula aren) satu demi satu di kebun belakang rumahnya. Setelah itu dipasang sebuah penampung air gula untuk kemudian dialirkan didalamnya.

Keesokan harinya, setelah wadah terisi air gula kemudian bapa Musa mengumpulkan semua air gula dalam beberapa jerigen untuk dimasak pada kompor tradisional yang terbuat dari tanah liat dengan kayu bakar yang sudah disiapkan di hari sebelumnya.

Pulau Rote

Hasil Gula Air atau biasa di sebut juga Gula Lempeng ini kemudian dijual di pasar pada pagi hari. Uang hasil penjualan tersebut kemudian digunakan untuk membeli beras, lauk pauk dan kebutuhan keluarga lainnya, ujar bapa Musa.

Mungkin hasilnya tak seberapa, namun beliau selalu bersyukur karena keluarganya bisa makan di hari ini dengan kerja keras dan tetesan keringat sendiri. Walau berat kerjaan yang dipilul, namun senyum anak dan istri bapa Musa seolah menjadi obat lelah seusai bekerja.

“rasa syukur bapa Musa menjadikan semuanya selalu hidup dalam kecukupan”

Manfaat dan Kandungan Nutrisi Gula Aren

Gula Aren merupakan salah satu pemanis yang selalu digunakan untuk menyempurnakan rasa makanan, rasa manis tersebut berasal dari kandungan fruktosa dan sukrosa yang cukup tinggi. Bentuk dan tekstur yang mudah larut membuatnya sangat efisien ketika dipergunakan. Selain manis, Gula ini juga ternyata memiliki segudang manfaat didalamnya seperti protein, karbohidrat, kalsium, zat besi, fosfor, vitamin B3 dan vitamin C

Selain itu pengetahuan masyarakat sekitar tentang Gula Aren yang katanya memiliki khasiat memperlancar pencernaan, dan faktanya memang benar. Pemanis yang akrab disebut Gula Air oleh masyarakat ini  mengandung serat makanan yang berfungsi untuk memperlancar salunran pencernaan.

Cerita Anak-anak Rote Ndau, NTT

Pulau Rote Wajah ceria Vannesha dan kawan-kawan

Pulau Rote Keluarga bapak musa messakh di Rote

Sore itu saya terbangun dari tidur siang karena mendengar suara anak-anak yang bernyanyi di pekarangan rumah. Rupanya mereka anak Rote yang sering berkumpul dan bermain sore hari di depan rumah.

“Kasih ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi ta kharap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”

Yah, lagu diatas adalah lagu favorite yang dinyanyikan Vanessha dan anak-anak Rote sore itu. Suara cempreng dan wajah lugu mereka menjadikan lagu ini sangat bermakna saat melihatnya. Mengingatkan saya dengan Ibu yang membesarkan anak-anaknya hingga hari ini.

Kemudian saya keluar dan mengajak mereka bermain dan bercerita. Awalnya mereka sangat pemalu hingga beberapa saat saya bujuk seketika semua berdatangan memeluk saya dengan erat,  sembari berkata “ayoo ayoo kak kita main”, hahaha.

Pulau Rote Kegiatan anak-anak rote di sore hari

Marina Menari! adalah lagu yang saya ajarkan sore itu. Lagu ini merupakan lagu yang saya dapat ketika aktif sebagai Relawan KSR PMI Unit 121 PNUP, lagunya seperti ini:

“Marina menari, diatas menara, diatas menara Marina menari”

Sambil melingkar berpegangan tangan, dan dengan gerak tubuh mengikuti sajak lagu membuatnya anak-anak begitu tertarik, yang saya tahu saat itu bahwa anak Rote memang pintar! setelah saya ajar satu kali mereka langsung bisa melakukannya sendiri.

Bermain dan bernyanyi terus kami lakukan hingga tak terasa senja mulai menghilang di balik horizon dan malam pun menjemput. Saya berniat untuk masuk kedalam rumah, tapi anak-anak rote saat itu masih menatap saya dengan mata polos mereka menunggu permainan selanjutnya, hahaha.

Yasudah saya melanjutkan permainan selanjutnya sambil berbagi certa sama mereka. Beberpa pertanyaan sederhana yang saya tanyakan yakni nama lengkap dan cita-cita mereka kelak.

Dengan antusias dan sedikit rasa malu satu persatu menjawab…

 “Saya ingin jadi Guru Matematika, Dokter, Polisi hingga Guru Agama. “

Saya merasa sangat senang mendengarkan jawaban mereka satu demi satu sembari kutitipkan doa agar cita-cita anak Rote ini terkabul suatu saat, Amin.

Menarik : Mengungkap 5 Keunikan Sate Klatak Pak Pong

Listrik dan Air yang Sulit

Pulau Rote Suasana penerangan malam hari

Pulau Rote Kiriman air bersih dari pusat kota

Saat siang semua aktifitas sangat ramai, namun ketika malam tiba dan peranan listrik terasa sangat vital saat itu. Saya duduk bersama bapa Hermanus di tengah malam yang gelap sambil bercerita tentang keidupan di Rote.

Beliau berkata bahwa Rote memiliki potensi yang luar biasa, namun belum semua bisa dimaksimalkan hingga hari ini. Sebut saja sektor lingkungan dan pariwisata yang sangat menjanjikan seperti Telaga Nirwana dan beberapa lepas pantai yang saya kunjungi tempo hari.

Semuanya sungguh benar-benar sangat indah. Lingkungan Pulau Rote sebagai pulau terluar Indonesia di bagian selatan benar-benar masih asri dan sangat terjaga. Beruntung kita memiliki Rote dalam Zona Indonesia yang saya yakin kedepannya bakal menjadi magnet dalam sektor pariwisata.

Pak kades, atau akrab disapa bapa Hermanus sangat baik kepada saya. Mengapa? ditengah kesulitan air bersih yang dialaminya, saya masih saja disiapkan air bersih 1 ember untuk mandi pagi dan sore. Padahal bisa mandi sekali sehari saja di desa ini dengan air bersih merupakan hal yang cukup langka, terlebih saat ini yang masuk dalam musim kemarau.

“terimakasih bapa hermanus”

Itulah sepenggal cerita yang saya saksikan di Pulau Rote. Hal yang sangat luar biasa melihat eksotisme lingkungan di Pulau Rote yang masih terjaga di tengah gencarnya pembangunan kota yang sangat modern di sisi barat. Pelajaran hidup saat melihat cara pembuatan Gula Aren yang kaya nutrisi merupakan tamparan keras bagi anak muda yang masih saja bermalas-malasan hingga hari ini.

Kesederhanaan dalam kebahagiaan merupakan hal yang tidak akan pernah saya lupakan di Pulau Rote. Semoga Bapa Hermanus sehat selalu bersama keluarga di Rote, salam hangat dari Beta.

Pulau Rote Keluargaku di rote

10 thoughts on “Sepenggal Cerita Beta Di Pulau Rote

  1. Waduh lagu Marina menari itu pas jaman masih ikut Pramuka. Hahaha.
    Betul nih. NTT itu punya potensi besar untuk wisata. Pernah denger dari seorang blogger lain, “hal yang sulit dicari di NTT itu awan. Iya kamu bakal melihat kalau di sana langit akan selalu biru.”
    Wow

  2. “Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas sampai Pulau Rote” ini tahun 90an akhir kali ya ada iklan Indomie pake tagline itu..trus dulu waktu SMP belajar Geografi ingatnya bukan Pulau Rote tapi di Peta biasanya tertulis Pulau Roti jadi agak ingat gtu hehee..atau jgn sampai disana mmg ada Rote ada Roti juga?

  3. wahh senangnya bisa melihat proses panen gula aren ya. saya dari dulu pengen coba manjat nih pohon tapi rada takut sih. soalnya pohonnya tegak cuma sebatang gitu deh. tapi panasaran saja.
    Salam buat keluarganya di Rote ya. semoga sehat dan sukses selalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *