Catatan Pendakian Pendakian Gunung Semeru 3676 MDPL 17 Agustus 2018

Semeru merupakan gunung tertinggi di pulau jawa yang namanya sudah sangat terkenal seantero negeri dengan ketinggian mencapai 3676 MDPL. Selain tinggi, gunung ini juga punya beberapa spot yang sangat indah seperti Ranukumbolo, Oro-oro ombo, Kalimati hingga puncaknya yang akrab disebut puncak para dewa bernama puncak Mahameru. Gunung ini masuk dalam kawasan taman nasional Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Menarik : Cerita Beta di Pulau Rote

Lokasi yang cukup strategis dan mudah di akses baik dari Bandara maupun stasiun kereta membuatnya masuk dalam bucket list wisatawan lokal hingga mancanegara. Meeting poin paling strategis yakni di Stasiun Malang

Gunung Semeru 3676 MDPL
Pos 0 Menuju Ranukumbolo

Berikut rute dan budget menuju gunung Semeru:

  • Naik pesawat menuju bandara juanda Surabaya : budget sesuai kota asal
  • Naik travel menuju stasiun malang : Rp 80.000,-
  • Naik angkot menuju Terminal Arjosari : Rp 7.000,-
  • Naik angkot menuju Tumpang : Rp 10.000,-
  • Naik jeep menuju Ranupani : Rp 55.000,-

Jadi totalnya yakni Rp 162.000,- dan tinggal dikali 2 jika dihitung biaya PP. Setelah sampai Ranupani selanjutnya kita mempersiapkan Simaksi pendakian kita mulai dari administrasi, perlengkapan hingga breafing bersama petugas.

Karena sekarang semeru sudah menggunakan sistem online dengan batasan max 600 orang/hari dan dengan tarif Rp 17.500,-/hari. Kalian harus melakukan booking online pendakian jauh hari sebelumnya.

Jangan sampai kejadian seperti saya yang kehabisan slot pendakian saat 17 Agustus 2018 lalu. Semua perlengkapan sudah saya siapkan dalam carrier eh malah ga bisa berangkat sesuai schedule yang ditentukan. Untungnya masih ada slot kosong di hari sebelumnya jadi kami memilih hari yang masih ada slot kosong tersebut.

Catatan Pendakian Yang Seru!

Sebelum tiba di Ranupani saya dan teman-teman pendakian dari Jawa Barat dan Jakarta mampir dulu di Basecamp mas Pras yang ada di Tumpang. Mendengar nama mas Pras pasti tak asing lagi bagi sobat pendaki yang pernah datang ke Semeru. Beliau adalah orang yang banyak membantu kami selama persiapan pendakian mulai dari penyewaan Jeep, penitipan barang di basecamp, nginap gratis, minum teh hangat hingga mandi dan bersih-bersih pun dibasecamp beliau hahaha.

Setelah kami packing ulang di basecamp yakni memisahkan barang yang kira-kira tidak berguna selama pendakian yang dapat menghambat perjalanan, selanjutnya kami berangkat naik jeep berwarna merah cetar menuju Ranupani pada pukul 11.00 WIB.

Gunung Semeru 3676 MDPL
Naik jeep menuju Ranupani

Namanya kawasan gunung nasional yaaahh pasti banyak embel-embelnya. Setibanya di Ranupani (lokasi start pendakian) kita harus bergelut terlebih dahulu dengan berkas administrasi yang super ribet untuk saya yang sejujurnya mager untuk hal seperti ini hahaha.

Berkas administrasi simaksi tersebut berupa:

  • Surat keterangan sehat max pembuatan 1 hari sebelumnya. Kalau lupa bisa buat di Ranupani Rp 25.000,-
  • Daftar nama lengkap ketua dan anggota kelompok. Karena saya masuk ketua gank jadi saya yang bertanggung jawab mengurus semuanya (1 kelompok max 8 pendaki)
  • Materai 6000.
  • KTP asli sebagai jaminan
  • selama pendakian beserta jumlahnya

Setelah semua rampung selanjutnya kita akan disatukan dalam sebuah ruangan untuk briefing pendakian. Disini kita akan mendengar wejangan dan tips selama pendakian, hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh selama nanjak serta jalur mana saja yang sekiranya aman sampai ke Puncak.

Saya menyimak semua penjelasan yang disampaikan mulai dari pos 0 sampi puncak mahameru. Beberapa yang saya tangkap yakni:

  • Hati-hati dengan Panthera Pardus yakni macan tutul yang hidup di semeru
  • Dilarang keras buang air kecil pada pohon yang ada ikat putihnya karena warga percaya ada yang bersemayam disana
  • Lama perjalanan ditentukan dengan berapa kali kalian selfie dijalur pendakian, hahaha
  • Dilarang membawa tissue basah, kalau sudah bawa bisa dititipkan ke petugas dan diambil kembali setelah pendakian
  • Asuransi pendakian hanya sampai pos terakhir yakni di KALIMATI, lebih dari itu jika terjadi apa-apa saat summit merupakan tanggung jawab pribadi. Semua bawa nyawa masing-masing menuju puncak
  • Dilarang memetik bunga Edelweis dan bunga yang mirip lavender itu lho tapi sebenarnya nama aslinya adalah Verbena Brasiliensis.
  • Tetap fokus dan jaga kerjasamanya selama pendakian bersama tim
  • Gunakan jalur kanan pada Ranukumbolo, karena jalur kiri adalah jalur si Panthera Pardus
  • Sumber mata air selama pendakian ada 2, yang pertama di Ranukumbolo sisi kiri dan kanan dan yang kedua ada di Sumber mani sekitar 1 jam perjalanan pp dari Kalimati
  • Hati-hati saat pengambilan air di sumber mani karena tempat tersebut juga merupakan tempat minum si Panthera Pardus

Nah, itulah wejangan dari senior-senior yang sudah mendarah daging di setiap briefing telah dilakukan. Saya rasa pasti sobat pendaki yang sudah pernah ikut briefing ini tahu betul semua wejangan-wejangan diatas hahaha. Terutama si hewan berbahaya Panthera Pardus

Pos 0 Menuju Ranukumbolo

Gunung Semeru 3676 MDPL
Pos 0 Menuju Ranukumbolo

Setelah simaksi dan briefing akhirnya waktu yang dinantikan tiba yakni memasuki jalur pendakian. Sebelum masuk jangan lupa untuk berfoto terlebih dahulu biar afdol.

Perjalanan dari pos 0 menuju ranukumbolo kurang lebih 6 jam perjalanan dengan 4 kali istirahat di 4 pos yang tersedia. Jika anda memiliki fisik yang prima bisa saja hanya memakan waktu 4-5 jam tanpa istirahat. Namun bila sebaliknya fisik anda kurang prima maka waktu yang dihabiskan bisa sampai 8 jamperjalanan.

Untuk jalur yang dilalui yaitu pevin blok selama kurang lebih 2 jam kemudian sobat pendaki akan memijak tanah merah yang padat disertai pepohonan yang rindang.

Tanjakan demi tanjakan kami lewati hingga maghrib menjemput dan suhu semakin dingin. Sebagian dari kami mulai menghela nafas sambil menahan dinginnya angin malan yang datang.

Kami bertanya pada beberapa pendaki yang lewat, “Apakah Ranukumbolo masih jauh bro?”, jawaban mereka “masih lumayan jauh mas”. Jawaban tersebut seakan membuat langkah ini semakin berat.

Untungnya saya jalan berbarengan sama si Fahmi pendaki keceh dari Jabar. Dia punya banyak stock madurasa dan coki-coki, hahaha lumayan buat mengganjal perut cuy. Terimakasih mi…

Namun….

Ternyata madurasa dan coki-coki tadi tak bertahan lama karena perut ini mulai berbunyi pertanda lapar, hehe.

Sambil mendaki kami menahan lapar dan dingin, hingga pada akhirnya didepan terlihat seberkas cahaya terang dan aroma yang beda. Apakah itu? tanya dalam hati.

Ternyata itu adalah penjual gorengan! What the…mean? Ada penjual gorengan di jalur pendakian gunung tertinggi di pulau jawa ini? hahaha… Karena penasaran saya coba mencicipi gorengan si bapak yang dijual dengan harga Rp 2.500,-/biji.

Selain gorengan si bapak juga menjual semangka (Rp 2.500,-) dan pop mie (Rp 15.000,-). Hmmm.. rasanya kayak gimana gitu ada penjual gorengan di jalur pendakian. Antara senang dan sedih sih sebenarnya.

Senangnya itu karena kita tidak perlu khawatir kehabisan ransum saat pendakian, sedihnya itu karena nilai-nilai manajemen ransum pendakian kita serasa percuma.

Selamat Datang Ranukumbolo

Sudah 5 jam lebih kami mendaki akhirnya terlihat cahaya terang dari seberang. Semua anggota tim makin semangat untuk melangkah. Hingga pada akhirnya semangat teman-teman satu persatu hilang. Ternyata cahaya yang terlihat tersebut masih jauuuuuuh, wkwkwk.

“hal ini membuktikan bahwa kita tidak boleh mengira-ngira jarak sesuati ketika diatas gunung”

Setelah 6 jam lebih berjalan akhirnya kami tiba di pusat cahaya tersebut, dibawah cahaya terlihat warna-warni tenda yang berjejer rapi dan keren. Karena saya dan fahmi yang tiba duluan jadi kami langsung mencari lokais camp malam itu tepat di tengah tak jauh dari bibir danau.

Tak lama kemudian semua anggota tim datang dengan wajah lesu posisi berdiri dan berjejer sambil menggigil, hahaha rupanya ranukumbolo menyambut kita dengan suhu 5 drajat Celcius, luaar biasa.

Kemudian saya memanggil beberapa yang masih bisa tahan dingin paling tidak 10 menit lah untuk mendirikan 3 buah tenda yang kami bawa.

Alhamdulillah 10 menit berlalu dan ketiga tenda tersebut telah selesai dirangkai. Tapi ada 1 kejanggalan yaitu pada tenda 6 orang warna biru milik Qiaah. Kata Zizah tendanya kebalik woy,

kemudian si Danu membalik tendanya, dan lucunya itu ternyata posisi yang pertama sudah benar, hahaha jadi si Danu membaliknya tendanya lagi pada posisi awal.

“Aduh Zizaaaahh, parah hahahaa”

Sunrise Ranukumbolo

Salah satu tujuan saya ke semeru bukan puncak Mahameru saja, selain itu saya juga ingin melihat sang fajar terbit tepat di bibir danau Ranukumbolo yang indah.

Ternyata banyak pendaki lain yang tujuannya bukan puncak, melainkan menikmati pemandangan keren di Ranukumbolo pada pagi hari saja. Beda dengan kami yang datang dari jauh memang untuk puncak.

Setelah puas menikmati sunrise kemudian ami, indah, dan zizah dkk menyiapkan makan berat untuk persiapan menuju kalimati. Tak muluk-muluk menu makan pagi kami yakni nasi, telor, sayur + ikan lureh yang saya bawa dari Makassar.

Gunung Semeru 3676 MDPL
Makan dulu gaes

Tanjakan Cinta

Gunung Semeru 3676 MDPL
Tanjakan Cinta

Tanjakan ini terkenal dengan mitosnya yakni ketika melakukan penanjakan maka sobat pendaki tidak boleh berbalik. Jika ia maka sobat pendaki harus kembali mengulang dari awal pendakian

“Tanjakan Cinta merupakan jalan setapak menuju bukit, dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Letaknya tepat setelah Ranu Kumbolo menuju Oro-oro Ombo. Saat melewati Tanjakan Cinta, para pendaki dihimbau untuk tidak menoleh ke belakang. Kalau menoleh, konon Anda akan putus cinta!”

Mendengar mitos tersebut dari mulut ke mulut pasti membuat sobat penasaran apa sih yang ada di balik tanjakan cinta ini? Nah berikut pemandangan keren setelah sobat pendaki menaklukkan tanjakan cinat.

Gunung Semeru 3676 MDPL
View dari Kalimati

Oro-oro ombo merupakan jalur favorite saya disepanjang perjalanan. Karena hanya pada spot ini terdapat padang savana luas dengan panorama rumput dan awan yang indah. Jika beruntung maka kita akan dapat bonus pemandangan tanaman ungu keren bernama Verbena Brasiliensis.

Perjalanan dari Ranukumbolo menuju Kalimati tak jauh berbeda dengan tanjakan di Ranupani, yang membedakan hanya pada pemandangan yang ada disini lebih terbuka dan indah dibanding sebelumnya. Pada rute pendakian ini saya lebih bersemangat dibanding hari sebelumnya karena pemandangan indah yang memanjakan mata di sepanjang perjalanan.

Sobat pendaki lain jauh tertinggal di belakang, sementara posisi depan ada saya dan gank tangguh dari cianjur atau akrab disebut CIANJUR SQUAD dengan kepala ganknya si Zen yang masih jomblo hingga hari ini, hahaha.

Hidup dan Mati di Kalimati

Setelah menempuh perjalan melewati tanjakan cinta – oro-oro ombo – kandangan kurang lebih 3 jam perjalanan akhirnya kita tiba di Kalimati yang merupakan pos terakhir sebelum puncak Mahameru.

Sesuai judul yang saya tulis diatas, pada pos terakhir sebelum summit ini merupakan batas akhir asuransi pendakian yang disarankan pihak TNBTS. Jikalau ada yang ingin ke puncak Mahameru 3676 MDPL maka diluar tanggung jawab pihak taman nasional.

Walaupun dalam perjalanan ada pendaki yang sakit, hipotermia, asma, kelaparan hingga meninggal dunia diluar tanggung jawab pihak TNBTS. Jadi persiapkan fisik dan mental jika memang benar-benar ingin ke puncak.

Summit Mahameru 3676 MDPL

Sebelum tidur alangkah baiknya kita menyiapkan perlengkapan summit terlebih dahulu untuk mengefisienkan waktu. Gak usah bawa banyak barang yang nantinya hanya menyusahkan saja. Berikut saran ransum dan perlengkapan summit yang wajib dibawa:

  • Air minum 1 botol untuk sendiri
  • Choki-choki 5 buah
  • Madurasa 2 sachet
  • Biskuit/roti 1 buah
  • Bendera merah putih
  • Tracking pole
  • Tas kecil

Selain itu sebelum melakukan summit alangkah baiknya minum energen plus makan roti terlebih dahulu biar ada tenaga tambahan saat summit.

Tepat pada pukul 11.00 saya dan beberapa pendaki di tenda lain bangun kemudian langsung mengambil perlengkapan summit yang sudah saya siapkan sebelum tidur taadi.

Kebetulan saya memimpin briefing pada malam itu dan menyampaikan beberapa hal terkait summit, seperti siapa saja yang sanggup untuk summit malam ini? sembari mengingatkan kepada teman-teman bahwa kita membawa nyawa masing-masing setelah melewati pos terakhir ini menuju puncak Mahameru.

“Briefing diakhiri dengan doa dan kata penyemangat kemudian langsung cuss menuju puncak pada pukul 11.26”

Pada perjalanan summit dari kalimati kita melewati Arcopodo menuju batas vegetasi kurang lebih 2 jam perjalanan dengan tekstur tanah merah keras dan banyak akar pohon raksasa. Setelah itu barulah kita masuk pada jalan yang menguras tenaga cukup besar yakni trek berpasir disertai angin dingin dan debu yang berterbangan.

Suhu di puncak mencapai 3 drajat celcius membuat ratusan pendaki lain KO dan memilih untuk kembali ke pos terakhir. Disamping itu ada juga yang berlindung di balik batuan besar agar tidak terkena terpaan angin yang dingin, ada yang beristirahat sambil menunggu sinar matahari dan ada pula dengan semangatnya melanjutkan perjalanannya.

“Jika dimisalkan ada 100 orang pendaki yang summit pada malam itu, maka hanya ada 30 orang yang berhasil sampai di puncak”

Kami melangkahkan kaki secara perlahan pada kemiringan sampai 45 drajat ini dengan sangat hati-hati karena disetiap 10 langkah kedepan pasti akan terperosot 5 langkah kebelakang, itupun jika beruntung. Kadang kita melangkahkan kaki 10 langkah kedepan tapi malah terperosot 11 langkah kebelakang.

Sampai di tengah perjalanan pada pukul 03:00 angin semakin kencang dan suhu semakin dingin membuat bibir dan kulit saya terasa beku. Kemudian saya mencoba mengambil persediaan air minum di sisi kiri dayapack. Sialnya air minum saya jatuh entah dimana! Ingin ku berkata….

Untungnya saya membawa madurasa di saku jaket depan sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang. Jika bertanya kenapa madurasa karena itu yang tersedia di minimarket terdekat, serius ini bukan endorse, hahaha.

“Saya mencoba menengok kebelakang ternyata masih ada ratusan cahaya headlamp berjejer rapih menandakan bahwa banyak pendaki yang terlambat memulai summit”

Waktu menunjukkan pukul 05:00 dan kaki ini mulai terasa beku, mata berkunang-kunang, serta dingin yang menusuk hingga ke ubun-ubun. Lafadz istigfar tak hentinya keluar dari bibir ini. Kami berjalan layaknya mayat hidup di malam itu, hehehe.

Karena lelah saya beristirahat di atas pasir kemudian menengok ke atas dan terlihat kibaran bendera merah putih menandakan puncak yang ternyata sudah dekat. Seketika tubuh ini terasa kuat dan bersemangat kembali melanjutkan pendakian.

Alhamdulillah saya tiba di Puncak Mahameru 3676 MDPL pada pukul 05.24 dengan suasana haru dan mata yang berkaca-kaca sambil mencium bendera merah putih di tiang yang tertancap kokoh di puncak. Dirgahayu negeri ku, Selamat Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2018 Indonesiaku.

7 thoughts on “Catatan Pendakian Pendakian Gunung Semeru 3676 MDPL 17 Agustus 2018

  1. Selamat sudah menaklukkan Mahameru, bro!

    Haha, aku juga sudah dengar banyak cerita tentang mas Pras dan penjual gorengan di pos 1 itu. Serem juga ya kalo sampai ketemu si macan tutul 🙁

  2. Wah ternyata bukan cuma satu dua orang yang kenal dengan Mas Pras di Tumpang ya……keren mas udah sampe ke Puncak, lanjut mas mumpung masih muda hehehehe……saya dulu waktu masih muda pernah juga ke puncak Mahameru yang jalannya masih lewat Arcopodo, kemarin nyoba lagi bareng keluarga, baru sampe Ranu Kumbolo aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.