Catatan Pendakian Gunung Kerinci 3805 MDPL 17 Agustus 2019

Kerinci merupakan gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara dan juga merupakan tertinggi kedua di Indonesia setelah Cartenz. Tak heran jika gunung ini menjadi bucket list utama oleh para pecinta landscape gunung. Lokasi yang terletak di pulau Sumatera membuat kami para orang Timur sebenarnya agak kesulitan untuk menjangkaunya, dikarenakan kami harus melewati dua penerbangan agar bisa sampai ke sana.

gunung kerinci

Perjalanan ke Kaki Gunung

Kamis, 15 Agustus 2019 merupakan titik awal saya bertolak dari tanah Bugis Makassar, Sulawesi Selatan menuju ke tanah Sumatera melalui rute Makassar-Jakarta dan Jakarta-Padang. Mengapa padang? karena Kota Padang, Sumatera Barat merupakan akses terbaik dan tercepat untuk sampai ke Kayu Aro, kaki gunung Kerinci.

Pesawat yang sempat delay selama 1 jam membuat saya agak gelisah ingin sampai ke Sumatera dengan segera, hingga akhirnya saya baru tiba di Padang saat senja mulai menjemput pada pukul 17.30 Wib. Perut yang mulai berbunyi serta dahaga yang tak tertahankan lagi membuat diri ini tak tahan ke tempat favorite di Padang, apa lagi kalau bukan Rumah Makan Padang yang sudah terkenal seantero Indonesia.

Salah satu rumah makan yang paling saya sukai bernama RM LAMUN OMBAK, sebuah rumah makan masakan padang yang terletak di daerah Khatib Sulaiman bersama Rani, teman pelatihan KSR dulu. Suasana nyaman ala pedesaan serta serta varian makanan khas bikin orang mupeng mencicipinya satu per satu.

Rasanya makan disini benar-benar nikmat, dan sangat cocok menjadi pengisi bahan bakar sebelum hari-hari berat esok di jalur pendakian Kerinci… kring-kringg…..Tak lama berselang hp saya berdering, ternyata itu telepon si Coy panggilan akrab Franky, driver kami menuju ke Kayu Aro nanti.

Perjalanan dari Padang menuju Jambi kurang lebih 8 jam lamanya dengan rute jalan sumatera yang terjal dan curam disepanjang perjalanan. Waktu yang terbilang sangat lama bagi saya yang start dari Makassar sedari pagi tadi. Alhasil begitu tiba di basecamp pada pukul 1.00 dini hari semua langsung tepar didalam selimut sambil menyembunyikan diri dari hembusan dinginnya udara di desa tersebut.

DAY 1 – PINTU RIMBA

Setelah aklimatisasi suhu menginap semalaman di Basecamp Kerinci Trekking, rumah bang Wawan kami bergegas packing ulang sambil menyiapkan simaksi pendakian. Beruntungnya semua simaksi dibantu oleh bang Wawan yang sudah akrab dengan penjaga pos Kerinci.

Sebelum berangkat, terlebih dahulu kami berkenalan dengan sobat pendaki lain, ada Meta , Deta dan Masya yang sangat kebetulan dari Jakarta bertemu disini, ada Willi dari Batam, ada Yuli teman KSR Pekanbaru, ada pasangan Suami Istri yang jadi teman cerita selama di jalur pendakian dan ada Ali yang rela menempuh jalur darat dari Medan demi untuk mencoba peruntungan pendakian pertamanya di Kerinci. Serta ada kawan dari Malaysia yaitu Bob Faizeli, Alfariz, Afiq, Mieza, dan Errni. Salam kenal buat semua, semoga kita semua bisa sampai dan turun dari Puncak Indrapura dengan selamat.

gunung kerinci
Pendaki 17 Agustus 2019

Perjalanan dari basecamp menuju pintu rimba kurang lebih 15 menit lamanya, di tengah perjalanan tak lupa para pendaki singgah di check point Tugu Macan untuk berfoto sejenak dengan icon hewan khas Sumatera tersebut. Setelah itu lanjut memasuki daerah gunung Kerinci melewati hamparan kebun teh dan sayur milik warga sekitar yang sangat indah, katanya sih mirip gambar anak-anak SD dulu.

Beruntungnya hari itu kami disambut dengan cuaca yang cerah, sebelum masuk pendakian saya dan Tim briefing sejenak dan berdoa semoga kami yang melakukan pendakian 17an ini bisa melihat puncak Indrapura 3805 mdpl dan turun ke kaki gunung dengan selamat, amiin. Saatnya memasuki PINTU RIMBA!

PINTU RIMBA – POS 1 – POS 2 – POS 3 (Tiga Jam)

Mendengar nama pintu rimba seketika orang awam pasti akan merinding dengan namanya. Begitupun di saya, yang ada di benak adalah hewan buas dan hutan rimba dengan jalur pendakian yang dipenuhi akar-akar pohon raksasa. Ternyata benar begitu masuk kita hanya disuguhi pemandangan hutan belantara yang membuat pandangan semakin sempit.

Berbeda dengan Semeru dan Rinjani yang memiliki padang sabana luas sejauh mata memandang. Kerinci datang dengan pesonanya magisnya sendiri. Pantas saja begitu banyak pendaki yang penasaran dan merasa tertantang dengan jalurnya yang 80% adalah hutan belantara.

Perjalanan dari Pintu Rimba menuju Pos 1 terbilang cukup lama yakni hanya 1,5 jam perjalanan dengan jalur yang cukup landai. Lanjut perjalanan Pos 1 menuju Pos 3 kami menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan dengan sesekali istirahat. Jalur pos ini mulai menanjak dengan beberapa spot yang cukup terjal, mamaksa saya dan pendaki lain merangkak dan bergelantungan di dahan pohon untuk mencapai tapak selanjutnya.

Sesekali dahan pohon yang menjorok kedalam menggores kulit saat menapak, membuat kami harus lebih berhati-hati saat melangkahkan kaki. Ternyata Kerinci butuh lebih dari kesabaran untuk mendakinya hingga kami tiba pukul 12.20 di Pos 3.

SHELTER 1 – SHELTER 2 – SHELTER 3 (Empat Jam)

Waktu menunjukkan pukul 13.00 dan kami masih melanjutkan perjalanan menuju Shelter 1 dengan kondisi fisik yang mulai menurun, pertanda kami harus mengisi tenaga di pos selanjutnya. Alhamdulillah kami berhasil tiba di Shelter 1 pada pukul 13.45.

Ternyata Shelter 1 merupakan check point para pendaki untuk beristirahat dan makan siang, namun ada juga yang mendirikan tenda disini karena tekstur tanahnya yang cukup datar. Selain itu Shelter 1 juga terdapat beberapa penjual air mineral dan gorengan, tapi tak seramai penjual gorengan di Semeru, hehehe.

Setelah tenaga terisi, dan nafas kembali saya dan Meta melanjutkan perjalanan terlebih dulu, diikuti sobat pendaki dari Malaysia. Namun di tengah perjalanan menuju Shelter 2 tiba-tiba hal yang paling tidak saya inginkan terjadi, di tengah dinginnya jalur pendakian tiba-tiba hujan pecah setelah sekian lamanya tak pernah turun hujan. Apakah ini sambutan tuhan kepada para pendaki merah putih di Kerinci saat 17 Agustus, entahlah….

Yang ada di pikiran saya saat itu hanya Shelter 2, Shelter 2 dan Shelter 2…

Sejenak saya berhenti untuk memakai jas hujan plastik yang sudah saya persiapkan jauh hari sebelum pendakian. Sebelum hipotermia menyerang, mau tidak mau kami harus tetap melangkah melanjutkan perjalanan pada pukul 14.50.

gunung kerinci
Ponco wajib kita sediakan saat nanjak

Tantangan ke Shelter 2 kali ini 2x lebih berat dari sebelumnya karena kita harus melawan elevasi jalur pendakian disertai dinginnya hujan yang menusuk hingga ke pori-pori kulit. Tak sedikit yang give up dan memilih istirahat sambil berteduh dibawah fly sheet bersama teman yang lain. Ada yang melangkah dengan nafas yang hampir habis dan ada yang memilih mendirikan tenda darurat untuk menghindari dinginnya angin yang masuk menembus jaket tebal mereka.

Perjalanan dari Shelter 1 meuju Shelter 2 kami tempuh kurang lebih 3 – 4 jam lamanya. Kami tiba tepat pada pukul 17.00 bersamaan saat hujan mulai reda dan matahari menampakkan sinarnya dari balik awan. Ternyata bang Wawan dan bang Dani (mirip ahmad dani) tiba lebih awal dari kami dengan beberapa tenda yang sudah berjejer dengan rapi.

Awalnya kami mengira bahwa kita akan nge camp di Shelter 3, namun kenyataannya shelter 3 sudah penuh dengan tenda pendaki lain, membuat kami harus mengambil keputusan untuk nge camp di Shelter 2 sore itu.

Setelah makan malam, kami membuka percakapan hangat dengan teman sependakian tadi sembari mengisi karbo untuk tenaga summit subuh nanti. Setelah itu saya kembali ke tenda, dan seperti biasa sebelum tidur saya pasti menyiapkan perlengkapan summit subuh nanti biar tidak repot.

Saran saya bawalah barang dengan efisien yang kiranya akan berguna saat summit. Jangan pernah membawa barang berlebih, karena hal tersebut hanya akan menghambat bahkan menghentikan langkahmu saat summit attack.

Summit Attack

Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari, menandakan kami harus bangun dan bergegas untuk sarapan dan pemanasan sebelum Summit. Setelah itu semua rombongan keluar tenda, melingkar dan berdoa semoga Summit Attack 17 Agustus 2019 kali ini bisa suksess, Amiin.

Sambil menggigil menahan dinginnya udara yang mencapai 5 drajat saat itu sy berusaha melangkahkan kaki sedikit demi sedikit menuju puncak. Sebenarnya ada 1 rahasia yang tidak saya ceritakan dengan Meta, willy dan kawan pendaki satu tim lain bahwa saat itu saya mules dan mual. Namun, apa daya suhu dingin membuat saya membayangkan ketika BAB saat itu pasti dinginnya akan merasuk sampai ke dalam, hahahaa jadi di tahan aja lah.

Skip… lanjuuttt summit….

Estimasi perjalanan dari shelter 2 menuju shelter 3 kurang lebih 2 jam lamanya dengan jalur pendakian yang cukup ekstrem dimana kamu akan dipaksa merangkak, memanjat dan bertumpu di akar pohon untuk melangkah ke tapak selanjutnya. Sungguh terlalu jalur dari Shelter 2 – Shelter 3.

gunung kerinci
Istirahat sejenak itu perlu

Ditambah lagi gelapnya malam disertai suhu dingin membuat gigi ini terasa beku dan kulit jadi mati rasa. Untung bawa madu rasa di saku untuk sedikit menghangatkatkan tubuh. Walau si Willy tidak menganjurkan madu pemanis buatan ini untuk sering di konsumsi hahaha, ya di embat aja karena terlanjur beli hahaha.

Selain madu yang jadi perbekalan praktis saat summit adalah choki-choki, cokelat, fitbar (dikasih willy) dan air mineral botol 1,5 L, dikarenakan langkanya mata air di jalur summit Kerinci.

hal ironi saat saya bertemu puluhan pendaki yang summit tapi tidak membawa air yang cukup, alhasil mereka hanya memhon seteguk air pada pendaki lain yang lewat

Waktu menunjukkan pukul 05.30 saya tiba di Batu Gantung dan cahaya emas dibalik awan mulai terlihat! Sepertinya itu adalah Gold Sunrise yang paling dinanti di Kerinci. Saya pun menghentikan langkah dan memilih untuk duduk menikmati Sunrise disini. Berbeda dengan spot Sunrise Semeru dan Rinjani yang ada di Puncak.

gunung kerinci
Spot sunrise terbaik ada di Batu Gantung

Setelah puas menikmati matahari terbit, rasa lelah seketika hilang dan saya kembali melanjutkan pendakian yang ternyata masih jauuuuh…

Sungguh benar-benar pendakian yang butuh lebih dari kesabaran. Untungnya ada Ali yang jadi pemandangan bullyan saya oleh si Meta dan Deta, hahaha melihat mereka bertengkar di tengah jalur summit jadi suntikan penyemangat tersendiri buat kami. Itulah serunya pendakian berasama.

semoga artikel ini ga di screenshoot si Alli, Meta dan Deta saat dibaca hahahaa

Alhamdulillah tepat pada pukul 6.30 saya tiba di Puncak bertuliskan Tugu Yudha. Rasanya sangat senang bisa sampai disini. Namun ternyata oh ternyata ini masih belum puncak, kata pendaki lain.

Tuh lihat keatas lagi yang ada asapnya, itu puncak Indrapura

gunung kerinci
Peninggalan jejak Tugu Yudha sebelum puncak

Oh my god, betul-betul sabar para pendaki Kerinci yang hendak ke Puncak Indrapura ini. Puncaknya masih diatas lagi ternyata.

Saya hampir give up lantaran fisik yang mulai rentan serta kaki yang serasa bebal. Sejenak saya berbaring dan melihat ke bawah sambil membayangkan perjuangan subuh tadi saat mulai summit. Ternyata saya sudah berjalan sejauh ini, masa iya puncak yang sudah ada di depan kelopak mata ini membuat saya menyerah.

Kalau dalam bahasa Makassar Siri’ na Pacce bos! (search siri’ na pacce)


Akhirnya saya memutuskan untuk melangkahkan kaki walau berat rasanya saya terus melangkah. Jika diibaratkan saat itu, saya berjalan bagaikan MAYAT HIDUP yang berjalan lurus dengan tatapan koson, wajah lesu dan bibir pucat. Sesekali pikiran melayang entah kemana, namun kaki tetap berjalan dengan iramanya.

gunung kerinci
rasa-rasa saya lupa ingatan di jalur terakhir ini
gunung kerinci

Finally, setelah berjalan kurang lebih 1 jam, saya tiba di titik yang ditunjukkan tadi. Titik dimana asap menyembur deras keatas menandakan bahwa kami sudah tiba di Kawah Kerinci, Gunung Berapi tertinggi di Asia Tenggara bernama PUNCAK INDRAPURA dengan selamat, Alhamdulillah.

Rasa haru tak tertahankan lagi bisa menjejakkan kaki di Pucak Kerinci dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74. Dirgahayu Indonesiaku, semoga jadi NEGERI YANG TENTRAM AMAN DAN DAMAI SELALU, Amiin.

gunung kerinci
para pendaki keceh berbagai daerah
jangan lupa di SUBSCIRBE yah @mydaypack

4 thoughts on “Catatan Pendakian Gunung Kerinci 3805 MDPL 17 Agustus 2019

  1. Masya Allah, sungguh perjuangan yang luar biasa.
    Kadang saya iri melihat para pendaki yang berhasil mencapai puncak , ini berarti mereka memiliki semangat yang tinggi, keuletan dan kegigihan yang luar biasa.
    Jadi gunung apa lagi nih yang mau ditaklukkan?

  2. Sudah di shelter 3 tapi penuh dan harus ke shelter 2 itu, apakah turun lagi gitu? Berapa jauhnya ya?

    Alhamdulillah sampai juga ke puncak ya.

  3. Pejalan menuju summits pastinya nggak mudah ya. Saya bukan penyuka olahraga tracking dan naik gunung, tapi saya suka mendengar cerita perjalanannya. Btw foto di atas ternyata keren yaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *