42 Kegiatan Selama 24 Jam di Palembang (Part I)

      Wong kita galo merupakan slogan khas kota pempek alias Palembang ini yang kata orang-orang artinya “orang kita semua” dengan makna bahwa ketika kita ketemu kita sudah seperti saudara sendiri. Hal tersebut yang menjadikan saya penasaran bagaimana sebenarnya kehidupan masyarakat di kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan ini. Waktu dan uang bukanlah halangan untuk berpergian, asal kita punya niat dan disempurnakan dengan usaha yang maksimal maka semua keinginan kita bisa terwujud. Perjalanan menuju Palembang kali ini saya menggunakan jalur “darat, air, dan udara” (tambah api jadi avatar deh). Walaupun hanya solo backpacker dan hanya ditemani dengan daypack di punggung tidak membuat saya ragu untuk eksplore Palembang selama 24 jam, berikut runutan 42 kegiatan saya selama 42 jam di Palembang :

  1. Foto di Jembatan Ampera

      Pertama tiba di Palembang tempat yang menjadi titik pusat untuk kegiatan-kegiatan saya selama disini ialah jembatan Ampera yang megah. Saya turun dari Bus di Jl. Parameswara dan mengambil angkot berwarna biru jurusan-Ampera. Alasan saya mendatangi jembatan Ampera karena ini merupakan tujuan utama sekaligus titik tengah dari berbagai tempat yang nantinya akan saya kunjungi di kota pempek ini.

view terbaik Ampera berada di dekat rumah makan terapung Mbok War atau lebih mudahnya di sebelah Benteng Kuto Besak

  1. Melihat aktifitas masyarakat di bawah jembatan Ampera

      Setelah melepas hasrat berjalan melewati jembatan Ampera di siang hari yang cerah ini selanjutnya saya menuju kebawah jembatan dan melihat aktifitas apa saja yang ada disana. Ternyata jembatan yang berdiri diatas sungai Musi ini dipenuhi dengan berbagai kegiatan yang sangat ramai, mulai dari lalu lintas dibawah jembatan, aktifitas perahu dan kendaraan yang lalu lalang serta menjadi tempat nongkrong dan beristirahat dikala lelah di siang hari.

Jangan kebawah jembatan pada malam hari sendirian

  1. Menyusuri sungai Musi naik perahu

      Tak lengkap rasanya jika ke kota pempek ini jika tidak menyusuri sungai Musi. Ada berbagai jasa perahu/speed boat yang ditawarkan disepanjang sungai musi dengan tarif Rp 100.000/org (masih bisa di tawar kalau kite nya rame-rame), berhubung karna saya sendiri jadinya bayar Rp 50.000/org sekali jalan, sekalian mengunjungi pulau kemaro juga heheee.

      Kita bisa melihat ramainya aktifitas di pinggiran sungai musi dan kawasan kuliner sungai musi dari atas perahu, benar-benar tempat yang hidup dengan kegiatan-kegiatan masyarakatnya, belum lagi adrenalin yang diadu ketika naik speed boat dengan kecepatan tinggi.

Perahunya masih bisa ditawar lho..

  1. Jalan-jalan ke pulau Kemaro

      Alkisah ada sebuah pulau di tepian sungai musi yang menjadi saksi putri raja dan pangeran yang datang berdagang di sungai Musi yang kemudian saling jatuh hati. Sang pangeran pun mengajak sang putrid ke kampong halamannya untuk bertemu keluarga pangeran, setelah kembali sang pangeran membawa 5 buah guci yang berisi emas. Sesampainya di Pulau Kemaro tiba-tiba emas tersebut berubah menjadi sayuran, maka dibuanglah ke 5 guci tersebut di sungai Musi. Tapi ada satu guci yang terbentur dan pecah dan ternyata berubah lagi jadi emas. Sang putrid bersama kedua pangawalnya pun menyelam ke sungai Musi untuk mengambil gucinya, tapi kemudian mereka tak kunjung kembali. Hal tersebut ditandai dengan adanya berbagai peninggalan sejarah dan klenteng yang berdiri kokoh dan khas di pulau Kemaro. Sungguh merupakan cerita yang seru.

bawa kamera dslr/mirrorless jika ada

  1. Melihat pohon cinta

      Salah satu yang menjadi daya tarik di pulau Kemaro ialah keberadaan pohon cinta disana. Saya penasaran mengapa pohon itu disebut pohon cinta. Ternyata setibanya saya disana untuk memastikan perkataan orang-orang bahwa pasangan yang kesana pasti menuliskan namanya dan pasangannya di pohon tersebut adalah benar, disana terdapat banyak tulisan pasangan-pasangan yang “katanya sih” bakal abadi kalau ditulis disana, heheee tapi kembali lagi kepada kesetiaan pasangan tersebut.

Jangan tanya saya menulis dipohon cinta atau tidak, bingung mau nulis sama siapa? Haha

  1. Melihat aktifitas wisata kuliner 26 ilir

       Nah, ini adalah tempat yang dinanti-nantikan ketika datang ke Palembang, Mengapa? MAKaaaN….. Karena disinlah kita bisa merasakan pempek khas Palembang yang melegenda itu. Tempat ini  merupakan pusat kuliner pempek yang berderetan disepanjang 26 ilir Palembang, kita bisa makan berbagai jenis pempek dan makanan khas Palembang lain seperti pempek kapal selam, model, laksan, ragit, dan masih banyak lagi.  Meskipun di kota lain ada penjual pempek juga, ternyata rasa dan suasana makan pempek disini memang berbeda.

Jika ingin mencoba ragit dan laksan datanglah pada pagi hari

  1. Makan mie celor

      Awalnya saya hanya mengetahui  bahwa di Palembang itu kulinernya khasnya Cuma pempek, ternyata bukan hanya pempek yang ada di Palembang ada juga yang namanya “Mie Celor” yang rasa dan sajiannya sangat khas. Mie ini terdiri dari kuah kental berwarna kuning dengan mie seperti mie pangsit ditambah sebuah telur rebus dan dilengkapi dengan bawang goreng, nyammm rasa mau nambah kalau mengingatnya lagi.

Mie Celor yang paling terkenal dengan rasa dan kekhasannya bernama Mie Celor H.M Syafei Z yang berada di ujung 26 ilir Palembang

  1. Naik angkot Palembang

       Melihat angkot warna-warni yang lalu lalalng di Ampera membuat saya penasaran bagaimana rasanya naik angkot di Palembang dan berapa tarifnya. Iseng-iseng mencoba naik dan keliling sana sini dengan beberapa angkot yang berbeda warna dengan tariff jauh-dekat hanya Rp 4.000,-  merupakan pengalaman unik juga bagi saya, Mengapa? Karena didalam angkot sangat terasa suasana pribumi yang hangat dengan bahasa dan logat Palembang yang khas dengan huruf akhiran “o” misalya lagi dimano, berapo, makan apo dll hahaaa seru, seru… Saya lumayan mengerti apa yang mereka katakanan dibandingkan ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di pulau jawa dan mendengar masyarakatnya berbahasa jawa.

coba juga naik bus lama Palembang

  1. Melihat langsung Jakabaring Stadium

      Saya sengaja menunggu menjelang waktu malam ke jakabaring karena kilauan lampu gelora sriwijaya terlihat lebih indah pada malam hari. Setiap sorenya tempat ini selalu tamai dengan aktifitas orang-orang baik itu berolahraga, jalan-jalan sore maupun sekedar berfoto di tulisan Gelora Sriwijaya. Jalan menuju lokasi ini agak macet dikarenakan pembuatan KRL menuju kesini sementara proses pengerjaan untuk mempersiapkan ASIAN Games 18th.

gunakanlah motor jika ingin kesini, karena tidak ada angkot yang lewat ketika ingin pulang

  1. Potret Tugu Parameswara

      Pas setelah dari jakabaring stadium saya berniat kembali ke Ampera untuk melihat keindahannya pada malam hari, tapi di depan stadium saya melihat sebuah tugu yang tidak tahu namanya namun terlihat sangat indah dengan paduan langit malam yang berwarna biru gelap, yang namanya jalan-jalan jadi disempatkan melihat-lihat tugu terlebih dahulu sambil cekrak-cekrek (memotret) di tugu. Ternyata setelah searching nama tugunya adalah Tugu Parameswara (2004) yang berbentuk pelepah pisang lantaran diseluruh daerah Sumatera kecuali daerah pesisir dan pegunungan sering ditemukan pohon pisang, berikut foto yang saya shoot pakai handphone (belum punya dslr/mirrorless) andalan saya  seperti dibawah ini.

  1. Melihat keindahan Ampera malam hari

      Jika tempo hari saya hanya bisa melihat foto orang-orang di Ampera pada malam hari, malam hari Alhamdulillah saya sudah bisa foto langsung jembatan Ampera menggunakan gadget saya. Keindahan Ampera memang baru akan terlihat pada malam hari dengan kilauan warna lampu yang berubah-ubah warna, jadi wajib hukumnya untuk jalan-jalan di Ampera pada malam hari. Berikut foto yang saya ambil menggunakan kamera handphone saya, maafkan kualitasnya yang kurang bagus maklum belum punya dslr/mirrorless hehee.

Bagi yang naik angkot jangan terlalu larut pulangnya, karena angko diatas 21.00 Wib sangat minim

  1. Kunjungan Monpera

      Malam semakin larut tapi kaki masih ingin terus berjalan keliling-keliling hingga sampailah saya di sebuah monumen yang bernama Monpera singkatandari Monumen Perjuangan Rakyat yang menjadi saksi sejarah berbagai peristiwa yang juga pernah menjadi basis pertempuran melawan Belanda. Karena malam semakin larut jadi hanya bisa berfoto didepan monumen tersebut, Insyaallah besok saya akan mencoba masuk dan naik ke puncak monument ini dan melihat keindahan kota Palembang dari puncak monument.

  1. Makan pempek khas Palembang

      Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, setelah berjalan kaki keliling Ampera sampai laparrr (sengaja) sekarang waktunya untuk makan pempek yang sudah diidam-idamkan di 26 ilir Palembang. Sekedar informasi, saya sering membahas mengenai 26 ilir, 16 ili dll. Nama 26 ilir merupakan sistem penamaan kecamatan yang ada di kota Palembang yang berarti kelurahan 26 ilir, kelurahan 16 ilir dan seterusnya.

      Ada begitu banyak penjual pempek dengan berbagai bahan dasar ikan yang dijajakan di 26 ilir ini dengan harga yang sangat murah. Lokasinya yang tidak begitu jauh dari jembatan Ampera juga membuat tempat ini sangat strategis dan ramai akan aktifitas mulai dari terbitnya matahari sampai terbenamnya.

  1. Membeli oleh-oleh pempek untuk kakak orang tua (wajib)

       Setelah puas makan pempek jangan lupa sebagai anak yang berbakti untuk membelikan oleh-oleh pempek buat kakak dan orang tua dirumah, pasalnya pempek ditempat lain beda dengan buatan tangan orang-orang Palembang, kalau tidak percaya coba bandingkan sendiri masbro dan mbabro.

Tips membeli pempek:

  • Misalnya Karena saya ingin mengirim paket pempek ini ke Makassar jadi pastikan anda memberitahu penjualnya agar dibuat paket yang bisa bertahan 3-4 hari, maka penjualnya akan menaburi tepung agar awet.
  • Setelah dipaketkan segera ke jasa pengiriman barang untuk mengirim agar pempeknya tidak basi.
  • Pastikan anda membeli paket pempek yang berisikan berbagai jenis pempek agar keluarga dirumah bisa mencoba semua rasanya.

  1. Mengunjungi Masjid Agung Palembang

      Lokasi masjid Agung Palembang yang strategis membuatnya mudah dijangkau dengan berjalan kaki dari jembatan Ampera, maka dari itu masjid Agung ini menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi umat Muslim, jangan bertanya kenapa! Anda pasti sudah tau alasannya, hehee. Kita sebagai umat muslim wajib menjalankan sholat 5 waktu maka dari itu walaupun sedang jalan-jalan tetap ingat untuk melaksanakan sholat (berjamaah pahalanya lebih besar), dan masjid ini adalah tempat yang sangat strategis dan bisa kita jangkau dengan mudah dan cepat. Mau tidak mau pasti kita harus kesini untuk menunaikan kewajiban kita sebagai umat muslim.

  1. Sholat dan ceramah subuh Masjid Agung Palembang

      Karena notabene nya merupakan masjid Agung, maka tempat ini sangat ramai oleh jamaah, termasuk saat tempo hari saya sholat subuh disini dan setelahnya ternyata ada ceramah subuh yang bisa menambah ilmu pengetahuan kita tentang agama juga. Sebuah paket ibadah lengkap yang disajikan di masjid ini. Selain itu suasana di masjid ini juga terasa sangat khas dengan paduan ornament-ornamen dari beberapa Negara berbeda membuatnya terlihat beda dengan masjid-masjid di kota lain yang pernah saya kunjungi.

  1. Coffe morning bersama ikhwa Masjid Agung

      Nah, tadinya setelah sholat subuh saya berniat mencari jajanan buat makan pagi diluar. Tapi setelah saya keluar dari pintu masjid saya melihat sebuah jejeran ikhwa berbaris dan mengambil sesuatu, kira-kira apakah itu? Hahahaaa dan ternyata disana terdapat secangkir kopi hangat dan kue yang telah tersedia buat jamaah subuh masjid Agung Palembang. Sungguh merupakan rezky Allah yang dating dari arah yang tak terduga, sebagai backpacker pasti hal-hal seperti ini sangat menyenangkan karena bisa menghemat makan pagi kita (ayo ngaku). Hahahaaa

Ada banyak jajanan kue Palembang dan pempek disekitaran masjid agung pada pagi dan sore hari

  1. Kunjungan museum Balaputeradewa

      Perjalanan pun berlanjut ke salah satu tempat bersejarah di Palembang yakni di Museum Balaputradewa. Pada museum ini terdiri dari 3 ruang utama yang berisi berbagai benda-benda peninggalan kerajaan sriwijaya dan batu dari sama megalitikum, pada bagian belakang museum juga terdapat lahan yang sangat luas yang di tengahnya berdiri rumah adat Palembang yang bernama Rumah Limas

  1. Melihat batu peninggalan zaman megalitikum

      Zaman megalitikum merupakan zaman batu yang terdapat banyak peninggalan prasejarah berupa bangunan-bangunan yang terbuat dari bati, dan di museum ini terdapat begitu banyak batu asli dari zaman tersebut, hal yang saya pikirkan ketika melihat bentuk batu-batu tersebut adalah “bagaimana orang-orang dulu bisa membuat ukiran batu sebesar dan sedetail ini” hahaha. Padahal di zaman sekarang saja orang-orang belum tentu bisa membuatnya dengan mudah.

Dilarang mengambil batu, hehe

  1. Berfoto dengan Rumah Limas dan uang Rp 10.000,-

      Hal wajib yang ditunggu-tunggu ketika berkunjung di museum Balaputeradewa ini ialah berfoto dengan uang Rp 10.000,-  di depan Rumah Limas Palembang. Foto ini saya dedikasikan untuk uang pecahan Rp 10.000,-  yang telah berjasa kita pergunakan mulai tahun 2005 s/d 2016 ini. Meskipun telah ada uang pecahan baru, namun uang pecahan lama ini telah membuat banyak orang-orang tahu banyak ataupun sedikit mengenai Rumah Limas dan asalanya.

  1. Ngopi bareng pakar sejarah museum balaputeradewa

      Kalau sekedar berfoto dengan uang pecahan Rp 10.000,- saya sudah merasa senang, dan sekarang eh saya bertemu dengan orang hebat dibalik terawatnya Museum Balaputeradewa ini. Bukan hanya itu, saya pun diajak untuk ngopi bareng dan makan kue di tempat tinggalnya yang berada tepat disamping Rumah Limas. Sungguh merupakan hal langka bisa bertemu langsung dengan beliau.

       Pak Sugistyana merupakan orang yang mendesain tata letak Museum Balaputeradewa dan merawat Rumah Limas sampai hari ini. Ada banyak batu megalitik dan benda bersejarah lain yang ditemukan dan diangkut langsung oleh beliau puluhan tahun silam dan disimpan di museum ini. Sedikit banyak beliau telah bercerita mengenai sejarah museum dan benda-benda yang ada didalamnya. Jadi ingat pelajaran-pelajaran SD dulu, hehehe. Sekarang bisa belajar sejarah lagi, tapi langsung dari yang berpengalaman, terimakasih banyak Pak Sugistyana!

To be continued. . . 

“Part II”

One thought on “42 Kegiatan Selama 24 Jam di Palembang (Part I)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *